ASAL-USUL
MASYARAKAT SAMIN BOJONEGORO
Franco Eka Murianto, http://bojonegoroculture.blogspot.co.id/
Ajaran Samin
Masyarakat Samin di Bojonegoro
Ajaran
Samin
(disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme)
adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Masyarakat ini adalah keturunan
para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur
sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan
terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk
yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang
dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda
maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap
menjengkelkan oleh kelompok di luarnya.
Masyarakat
Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru
tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa
Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah
dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di
perbatasan kedua wilayah. Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di
kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih
suka disebut wong sikep, karena kata samin bagi
mereka mengandung makna negatif. Orang luar Samin sering menganggap mereka
sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan
acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro. Pokok
ajaran Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso
Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan
ke Padang, 1914
Ajaran
Pengikut ajaran Samin mempunyai lima ajaran
·
Mboten Sekolah (tidak bersekolah),
·
Mboten ngangge peci(tidak memakai peci), tapi memakai
“iket”, yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu,
·
tidak berpoligami,( Menikah 2 kali)
·
tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana
selutut,
·
tidak berdagang,
·
penolakan terhadap Kapitalisme.
Samin Surosentiko
Pokok-pokok ajaran
Saminisme
Pokok ajaran Samin adalah sebagai
berikut:
·
Agama adalah senjata atau pegangan
hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang
Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting
adalah tabiat dalam hidupnya.
·
Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan
suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang.
·
Bersikap sabar dan jangan sombong.
·
Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup
adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang
Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan
pakaiannya.
·
Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur,
dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam
perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh
menerima sumbangan dalam bentuk uang.
Kebudayaan
Sebagaimana
paham lain yang dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang
samin juga memiliki "kitab suci". "Kitab suci"' itu
adalah Serat Jamus Kalimasada yang
terdiri atas beberapa buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat
Pikukuh Kasajente, Serat Uri-uri Pambudi, Serat
Jati Sawit, Serat Laampahing Urip,
dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan oleh orang
Samin.
Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten (pengukuhan
kehidupan sejati) ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre
puisi tradisional, kesusasteraan Jawa.
Dengan
mempedomani kitab itulah, orang Samin hendak membangun sebuah negera
batin yang jauh dari sikap drengki srei, tukar padu, dahpen
kemeren. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah "Lakonana
sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokali dilakoni."
Sikap
Walaupun masa penjajahan Belanda dan Jepang telah berakhir, orang Samin tetap menilai pemerintah Indonesia saat itu tidak jujur. Oleh karenanya,
ketika menikah mereka tidak mencatatkan dirinya baik di Kantor Urusan Agama/(KUA)
atau di catatan sipil.
Secara umum, perilaku orang Samin/ 'Sikep' sangat
jujur dan polos tetapi kritis.
Bahasa
Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa, jadi bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa
ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang
digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan.
Pakaian
Pakaian orang Samin biasanya
berupa baju lengan panjang tanpa kerah, berwarna hitam. Laki-laki memakai ikat kepala.
Untuk pakaian wanita bentuknya kebaya lengan panjang, berkain sebatas di bawah tempurung lutut atau di atas mata kaki.
Sistem kekerabatan
Dalam hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan
kekerabatan Jawa pada umumnya. Sebutan-sebutan dan cara penyebutannya
sama. Hanya saja mereka tidak terlalu mengenal hubungan darah atau generasi
lebih ke atas setelah Kakek atau Nenek.
Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar
Samin terjalin dengan baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan
masyarakat Samin memiliki tradisi untuk saling berkunjung
terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat sekalipun tempat tinggalnya
jauh.
Pernikahan
Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan
itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk
menciptakan “Atmaja (U)Tama” (anak yang mulia).
Dalam ajaran Samin, dalam perkawinan seorang pengantin laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian: “ Sejak
Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini
seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah
kami jalani berdua.”
Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang
diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih
dipatuhi warga samin.
Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah walaupun
yang menikahkan hanya orang tua pengantin.
Ajaran perihal Perkawinan dalam tembang Pangkur orang
Samin adalah sebagai berikut (dalam Bahasa Jawa):
Basa Jawa
|
Terjemahan
|
“Saha malih dadya garan,
|
"Maka yang dijadikan pedoman,
|
anggegulang gelunganing pembudi,
|
untuk melatih budi yang ditata,
|
palakrama nguwoh mangun,
|
pernikahan yang berhasilkan bentuk,
|
memangun traping widya,
|
membangun penerapan ilmu,
|
kasampar kasandhung dugi prayogântuk,
|
terserempet, tersandung sampai kebajikan yang
dicapai,
|
ambudya atmaja 'tama,
|
bercita-cita menjadi anak yang mulia,
|
mugi-mugi dadi kanthi.”
|
mudah-mudahan menjadi tuntunan."
|
Sikap terhadap lingkungan
Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif,
mereka memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu)
secukupnya saja dan tidak pernah mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran
masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi
mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi penghidupan kepada mereka.
Sebagai petani
tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-baiknya. Dalam
pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya
berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan kekayaan alam
habis atau tidak tergantung pada pemakainya.
Rumah masyarakat samin
Pemukiman
Pemukiman masyarakat Samin biasanya mengelompok dalam
satu deretan rumah-rumah
agar memudahkan untuk berkomunikasi. Rumah tersebut terbuat dari
kayu terutamakayu jati dan juga bambu,
jarang ditemui rumah berdinding batu bata. Bangunan rumah relatif luas dengan bentuk limasan, kampung, atau joglo.
Penataan ruang sangat sederhana dan masih tradisional, terdiri dari ruang tamu
yang cukup luas, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan sumur terletak agak
jauh dan biasanya digunakan oleh beberapa keluarga. Kandang ternak berada di luar, di samping rumah.
Upacara dan tradisi
Upacara-upacara tradisi yang
ada pada masyarakat Samin antara lain nyadran (bersih desa) sekaligus
menguras sumber air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada
masyarakat. Tradisi selamatan yang berkaitan dengan daur hidup yaitu kehamilan,kelahiran,khitanan,perkawinan,
dan kematian. Mereka melakukan tradisi tersebut secara sederhana.
Masyarakat Samin saat
ini
Perubahan zaman juga berpengaruh terhadap
tradisi masyarakat Samin. Mereka saat ini sudah
menggunakan traktor dan pupuk kimis dalam pertanian,
serta menggunakan peralatan rumah
tangga dari plastik, alumunium, dan lain-lain.
sekian penjelasan dari saya dan semoga bermanfaat bagi pembaca




